Spread the knowledge

Alienasi sosial dan makna kehadiran dalam relasi sosial modern merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh faktor sosial-budaya, psikologis, serta perkembangan teknologi. Dalam masyarakat kontemporer yang ditandai oleh intensitas interaksi tinggi baik secara langsung maupun digital justru dapat mengalami perasaan terisolasi dan terputus dari lingkungannya. Alienasi sosial tidak sekadar mencerminkan minimnya interaksi sosial, tetapi menunjukkan terputusnya makna, keterlibatan emosional, dan rasa memiliki dalam hubungan sosial [1].

Kehadiran dalam relasi sosial modern juga mengalami pergeseran makna. Kehadiran tidak lagi terbatas pada kedekatan fisik, melainkan mencakup interaksi digital dan virtual yang membentuk kembali cara individu mengalami konektivitas dan keintiman [2]. Namun, perluasan makna kehadiran ini tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas relasi. Individu dapat “hadir” secara teknologis, tetapi tetap mengalami keterasingan secara emosional, sehingga kehadiran menjadi bersifat formal dan simbolik, bukan relasional. Norma sosial modern yang mengutamakan keterbukaan, partisipasi aktif, dan komunikasi intensif sering kali memperkuat kondisi alienasi sosial. Preferensi individu terhadap interaksi selektif atau kesendirian kerap dipersepsikan sebagai ketidakterlibatan sosial, padahal variasi cara berelasi merupakan bagian dari keberagaman pengalaman manusia. Ketika keberagaman ini tidak diakomodasi, alienasi muncul bukan sebagai penolakan terhadap masyarakat, melainkan sebagai ketidaksesuaian antara kebutuhan personal dan ekspektasi sosial yang dominan. Dalam dunia kerja dan kehidupan profesional, alienasi sosial semakin diperparah oleh dinamika kerja modern yang menempatkan produktivitas dan sentralitas kerja di atas relasi sosial. Lingkungan kerja kontemporer sering kali mengikis kualitas hubungan antarindividu dan menggantinya dengan relasi fungsional yang instrumental [3]. Kondisi ini menunjukkan bahwa alienasi tidak hanya bersifat individual, tetapi juga terstruktur secara sosial dan institusional.

 

Secara teoretis, pemikiran Giddens, Habermas, dan Luhmann menyoroti alienasi sebagai konsekuensi modernitas refleksif, di mana relasi sosial kehilangan kedalaman makna dan individu menghadapi tantangan dalam mempertahankan keterhubungan yang bermakna [4]. Perspektif ini menegaskan bahwa alienasi sosial bukanlah penyimpangan personal, melainkan bagian dari dinamika sosial yang kompleks dan berlapis. Perkembangan media sosial dan teknologi digital turut memperkuat ambiguitas makna kehadiran. Interaksi antartubuh secara langsung semakin sering digantikan oleh komunikasi virtual, menghasilkan proses dematerialisasi relasi sosial yang memengaruhi cara individu memandang diri sendiri dan orang lain [5]. Dalam kondisi ini, kehadiran menjadi rapuh dan terfragmentasi, sebagaimana digambarkan dalam pendekatan fenomenologis terhadap pengalaman manusia di era medialisasi [6].

Interaksi antara alienasi dan kehadiran menjadi kunci dalam memahami relasi sosial modern. Upaya mengatasi alienasi tidak cukup dilakukan melalui peningkatan frekuensi interaksi, melainkan dengan membangun ekologi komunikasi yang menumbuhkan dialog, intersubjektivitas, dan hubungan yang bermakna [7]. Kehadiran baik fisik maupun virtual memiliki implikasi penting terhadap kesejahteraan psikologis dan kesehatan individu, mengingat isolasi sosial merupakan salah satu determinan signifikan kesehatan fisik dan mental [8].

Fenomena alienasi sosial dan transformasi makna kehadiran tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka ruang refleksi untuk memikirkan kembali konektivitas dan keintiman dalam masyarakat modern. Pendekatan yang lebih humanis menempatkan alienasi sebagai sinyal perlunya relasi sosial yang dibangun atas dasar empati, pengakuan terhadap keberagaman cara berinteraksi, serta penghormatan terhadap hak individu atas ruang personal dan kehadiran yang bermakna.

Reference:

[1]      M. Andriichuk, “Social alienation of the individual as a cornerstone problem of today: a theoretical analysis of the concept,” Social pedagogy: theory and practice, no. 3, pp. 39–45, 2025, doi: 10.12958/1817-3764-2025-3-39-45.

[2]      S. Hong, “Presence, or the sense of being-there and being-with in the new media society,” First Monday, Oct. 2015, doi: 10.5210/fm.v20i10.5932.

[3]      C. Bousquet, “Work and social alienation,” Philos. Stud., vol. 180, no. 1, pp. 133–158, Jan. 2023, doi: 10.1007/s11098-022-01880-9.

[4]      A. Bialakowsky, “Siguiendo el rastro de la alienación en la teoría sociológica contemporánea. Una lectura de los diagnósticos de la modernidad tardía de A. Giddens, J. Habermas y N. Luhmann,” Nómadas. Revista Crítica de Ciencias Sociales y Jurídicas, vol. 33, no. 1, Feb. 2012, doi: 10.5209/rev_NOMA.2012.v33.n1.38498.

[5]      G. Stanghellini and L. Sass, “The Bracketing of Presence: Dematerialization and Disembodiment in Times of Pandemic and of Social Distancing Biopolitics,” Psychopathology, vol. 54, no. 3, pp. 113–118, 2021, doi: 10.1159/000515679.

[6]      S. Dümling and Z. Wang, Eds., Being There, but How? Bielefeld, Germany: transcript Verlag, 2024. doi: 10.14361/9783839468807.

[7]      G. M. Kirillov, “From the Space of Alienation to the Environment of the Ecology of Thought,” Общество: философия, история, культура, no. 7, pp. 14–20, Jul. 2025, doi: 10.24158/fik.2025.7.1.

[8]        J. Holt-Lunstad and A. Steptoe, “Social isolation: An underappreciated determinant of physical health,” Curr. Opin. Psychol., vol. 43, pp. 232–237, Feb. 2022, doi: 10.1016/j.copsyc.2021.07.012